Selasa, 28 April 2026

CIPTAGELAR (TATALI PARANTI KARUHUN) - Budaya sebagai Benteng Pelayanan Sosial Dasar dan Ketahanan Pangan


 “ seharusnya budaya tidak berfungsi hanya sekedar pelengkap simbolis atau ornamentasi dalam pembangunan saja, melainkan sebagai infrastruktur sistemik yang secara aktif mengatur dan mengoordinasikan seluruh aspek kehidupan—dari produksi pangan, distribusi sumber daya, hingga akses terhadap layanan sosial. Prinsip kemandirian yang dihasilkan dari sistem budaya ini menjadi jaminan terkuat bagi keterpenuhan kebutuhan dasar warga”. Kang Ovan TPP PUSAT Bidang Pengembangan Sosial Budaya

Ketahanan pangan dan jaminan keterpenuhan pelayanan sosial dasar merupakan dua pilar fundamental dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Di tengah dominasi pendekatan teknokratis dan kapitalis dalam pembangunan, masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi, Jawa Barat, menawarkan model berbasis kearifan lokal dan sistem budaya. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis peran budaya dalam membangun ketahanan pangan dan menjamin keterpenuhan pelayanan sosial dasar di Desa Adat Ciptagelar.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pertanian tradisional yang berlandaskan ajaran tatali paranti karuhun, dengan praktik menanam padi setahun sekali tanpa pupuk kimia dan sistem penyimpanan dalam leuit (lumbung), telah menciptakan cadangan pangan yang mampu bertahan hingga puluhan tahun. Dalam aspek pelayanan sosial dasar, Ciptagelar menunjukkan integrasi unik antara sistem kesehatan tradisional dengan layanan kesehatan modern (posyandu), serta pemenuhan akses pendidikan formal dari SD hingga SMA yang berjalan beriringan dengan teknologi informasi modern seperti wifi 5G, radio, dan televisi komunitas. Saya mencoba menyimpulkan bahwa budaya berfungsi tidak hanya sebagai pelengkap simbolis, tetapi sebagai infrastruktur sistemik yang mengatur produksi, distribusi, dan konsumsi pangan sekaligus menjamin akses terhadap layanan sosial dasar. Model Ciptagelar menawarkan pembelajaran berharga bagi pengembangan kebijakan ketahanan pangan dan pelayanan sosial yang berperspektif budaya.

Part 1
Ketahanan pangan dan jaminan keterpenuhan pelayanan sosial dasar (pendidikan, kesehatan, dan layanan dasar lainnya) merupakan hak dasar setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi. Namun, di banyak wilayah, khususnya di daerah terpencil dan pedalaman, pemenuhan kedua aspek tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses infrastruktur, ketergantungan pada pasokan dari luar, hingga rapuhnya sistem produksi pangan lokal akibat perubahan iklim dan tekanan modernisasi.

Dalam konteks inilah, masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi, Jawa Barat, menarik untuk dikaji. Terletak di kaki Gunung Halimun-Salak pada ketinggian 800-1.200 meter di atas permukaan laut, komunitas adat ini telah bertahan selama lebih dari 640 tahun—sejak berdiri pada tahun 1368—dengan tetap memegang teguh tradisi dan budaya leluhur. Yang membuat Ciptagelar istimewa adalah kemampuannya untuk tidak sekadar bertahan, tetapi justru mencapai kemandirian pangan yang mengesankan serta menyediakan akses terhadap pelayanan sosial dasar yang relatif lengkap bagi warganya, tanpa harus meninggalkan nilai-nilai adat yang menjadi fondasi kehidupannya.

Bagaimana budaya berperan dalam membangun ketahanan pangan dan menjamin keterpenuhan pelayanan sosial dasar di Desa Adat Ciptagelar?

Mari kita lihat satu persatu secara lebih spesifik, penulis  mencoba menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, sementara data-data dikumpulkan melalui studi literatur dan analisis dokumen dari berbagai sumber, termasuk artikel jurnal ilmiah, laporan berita dan publikasi resmi terkait kasepuhan Ciptagelar untuk kemudian dianalisis dengan teknik analisis tematik   tematik untuk mengidentifikasi pola-pola kultural yang relevan dengan ketahanan pangan dan pelayanan sosial dasar

Tulisan ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi sistem budaya yang mendasari praktik ketahanan pangan di Ciptagelar; (2) mendeskripsikan model pemenuhan pelayanan sosial dasar di komunitas tersebut; dan (3) menganalisis bagaimana kedua sistem tersebut berinteraksi dan saling memperkuat dalam kerangka budaya lokal.

Part 2

Letak Geografis dan Sejarah: Kasepuhan Ciptagelar secara administratif terletak di Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Komunitas ini mendiami wilayah yang berada di dalam kawasan hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, dengan ketinggian antara 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut.

Berdasarkan catatan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun, Kampung Adat Ciptagelar mulai berdiri pada tahun 1368, yang didirikan oleh perwakilan dari Kerajaan Sunda di bawah pemerintahan Prabu Siliwangi. Sejak saat itu, kepemimpinan kampung adat ini telah berlangsung selama sepuluh generasi secara turun-temurun, dengan pemimpin adat saat ini adalah Abah Ugi Sugriana Rakasiwi (generasi kesepuluh).

 Sistem Sosial dan Kepercayaan Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar hidup dengan sistem kepercayaan dan nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur mereka, yang dikenal dengan ajaran tatali paranti karuhun. Ajaran ini tidak hanya mencakup aspek religi, tetapi juga pandangan hidup, mata pencaharian, dan aktivitas sosial budaya masyarakat. Masyarakat meyakini bahwa menjalankan tata cara yang diwariskan oleh leluhur adalah bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada alam yang memberikan hasil bumi bagi mereka.

 Salah satu ajaran fundamental yang masih dipegang teguh adalah filosofi - mupusti pare,  lain migusti – memuliakan  padi tetapi tidak menuhankannya. Pertanian dipandang sebagai sebuah ritual adat yang sangat penting dan sakral, sehingga dalam proses pertanian terdapat aturan-aturan adat yang memiliki kearifan lokal di dalamnya.

Part 3

Ketahanan Pangan Berbasis Budaya di Ciptagelar Masyarakat Ciptagelar menjalankan dua sistem pertanian secara simultan. Pertama, pertanian di lahan kering yang berlokasi di perbukitan (huma) atau berladang di lereng. Kedua, pertanian di hamparan lahan basah atau bersawah (sawah). Kedua sistem ini dijalankan sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi, dilakukan baik oleh keluarga secara mandiri maupun secara komunal.

Yang membedakan sistem pertanian Ciptagelar dari praktik pertanian modern adalah sifatnya yang alami dan kepatuhan terhadap aturan-aturan adat yang ketat. Penanaman padi dilakukan hanya satu kali dalam setahun sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan untuk menjaga kesuburan lahan. Setiap tahapan bertani, mulai dari menanam hingga panen, disertai dengan upacara adat sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan kepada alam. Masyarakat Ciptagelar tidak menggunakan pupuk kimia maupun pestisida dalam praktik pertanian mereka.

Yang menarik, penentuan waktu tanam tidak berpatokan pada kalender modern, melainkan pada pengamatan terhadap pergerakan bintang. Masyarakat Ciptagelar menggunakan dua bintang sebagai penanda: bintang Kerti atau Kartika sebagai penanda dimulainya masa persiapan, dan bintang Kidang atau Waluku (Orion) sebagai penanda waktu mulai menanam padi. Setelah bintang Kidang bergeser posisinya ke arah jam dua, penanaman harus dihentikan dan masa pembesaran padi dimulai hingga masa panen sebelum bintang Kidang menghilang.

Leuit : Lumbung Padi sebagai Simbol Ketahanan Pangan

Leuit atau lumbung padi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Leuit dirancang secara tradisional untuk tahan terhadap cuaca dan gangguan hama, serta dilengkapi sistem sirkulasi udara yang baik untuk menjaga kualitas gabah yang disimpan. Jumlah leuit di Ciptagelar tak kurang dari 11.000 buah, yang tersebar di seluruh permukiman warga.

 

Masing-masing keluarga di Kasepuhan Ciptagelar biasanya memiliki satu lumbung padi yang dapat menampung 1.000 hingga 2.000 ikat padi—cukup untuk mencukupi kebutuhan konsumsi satu keluarga selama setahun. Varietas padi lokal yang ditanam terbukti lebih tahan lama ketika disimpan dalam leuit dibandingkan dengan varietas unggulan lainnya, sehingga menjamin ketersediaan pangan hingga musim panen berikutnya.

Masyarakat Ciptagelar memiliki keyakinan yang kuat untuk tidak menjual beras atau padi. Mereka memandang padi sebagai sesuatu yang sakral, dengan filosofi yang menghubungkan kehidupan manusia dengan padi sebagai pangan yang saling memberi kehidupan.

Cadangan Pangan yang Mengagumkan - Hasil dari sistem pertanian dan penyimpanan tradisional ini sungguh luar biasa. Berdasarkan perhitungan ketua adat Abah Ugi Sugriana Rakasiwi pada tahun 2017, persediaan pangan utama warga Ciptagelar diperkirakan dapat bertahan hingga 95 tahun ke depan, dengan estimasi hasil panen setiap tahun yang mengalami surplus mencapai 40.000 ton. Dalam skenario terburuk—andai bumi tidak bisa ditanami selama tujuh hingga sepuluh tahun—cadangan pangan yang ada dinilai masih aman.

Produktivitas pertanian Ciptagelar juga mengesankan. Dengan sistem pertanian alami tanpa pupuk dan pestisida kimia, sawah di Ciptagelar mampu menghasilkan 10 ton per hektar—produktivitas yang jauh di atas rata-rata nasional Indonesia. Fenomena yang lebih mencengangkan terjadi pada tahun 2015, ketika El Nino menyebabkan kemarau panjang dan menggagalkan panen padi di berbagai tempat, namun Ciptagelar justru mencatat panen fenomenal yang mencapai 2.144.000 ikat dengan luasan dan bibit padi yang sama.

Dapur Bersama dan Konsumsi Komunal - Selain sistem produksi dan penyimpanan yang tangguh, Ciptagelar juga memiliki sistem konsumsi yang unik berupa dapur bersama yang buka 24 jam. Di dapur bersama ini, warga desa memasak dan makan bersama sebagai simbol kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan. Praktik ini tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme distribusi pangan yang merata, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan kohesi komunitas—elemen budaya yang tak terpisahkan dari jaminan keterpenuhan kebutuhan dasar.

Part 4
Pelayanan Sosial Dasar di Ciptagelar: Antara Tradisi dan Modernitas

Sistem Kesehatan: Integrasi Dukun dan Posyandu - Dalam aspek pelayanan kesehatan, Ciptagelar menunjukkan model hibrida yang unik antara sistem kesehatan tradisional dan modern. Berdasarkan survei tim The 6th Connection 2020 IPB University, di Kasepuhan Ciptagelar sudah terdapat kegiatan posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) sebagai bagian dari layanan kesehatan modern.

 

Namun yang menarik adalah keberadaan dukun yang berperan sebagai dokter dan bidan dalam sistem kesehatan masyarakat. Menurut pernyataan Kang Yoyo (juru bicara Desa Adat Ciptagelar), semua orang adalah dukun dan dukun mampu melihat penyakit karena keturunan ataupun "kiriman". Dukun tidak hanya berfungsi sebagai penyembuh secara spiritual, tetapi juga memiliki peran dalam diagnosis penyakit dan penanganan kesehatan ibu dan anak.

Fakta menarik lainnya adalah bahwa ketua adat Kasepuhan Ciptagelar sendiri, Abah Ugi, memiliki ketertarikan terhadap teknologi komunikasi sejak menempuh pendidikan di SMP dan SMK—menunjukkan bahwa kepemimpinan adat di Ciptagelar tidak alergi terhadap modernitas, tetapi justru menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi.

Pendidikan: Sekolah Formal dan Pusat Teknologi - Dalam hal pendidikan, Ciptagelar telah menyediakan fasilitas yang relatif lengkap. Terdapat Sekolah Dasar Negeri Ciptagelar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas Terpadu untuk mempersiapkan pendidikan anak-anak dan generasi muda. Keberadaan jenjang pendidikan hingga SMA di wilayah pedalaman seperti Ciptagelar merupakan capaian yang signifikan dalam menjamin akses pendidikan dasar bagi seluruh warga.

Lebih dari itu, Ciptagelar juga memiliki IT-Center  dan mengadakan Rural ICT Camp yang terbuka tidak hanya untuk warga lokal tetapi juga untuk orang dari luar kampung yang ingin belajar dan mengembangkan teknologi. Fasilitas ini menunjukkan bahwa Ciptagelar tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi informasi, tetapi justru menggunakannya sebagai alat pemberdayaan.

Teknologi Informasi dan Komunikasi - Salah satu aspek paling menarik dari kehidupan di Ciptagelar adalah keberadaan infrastruktur teknologi informasi yang cukup maju. Kampung ini telah menggunakan listrik dengan tenaga mikrohidro (energi terbarukan) sehingga mandiri secara energi tanpa bergantung pada PLN. Bahkan, telah tersedia jaringan wifi 5G, yang menjadikan Ciptagelar terhubung dengan dunia luar secara digital.

Ciptagelar juga memiliki stasiun radio komunitas bernama Radio Suara Ciptagelar dan stasiun televisi lokal bernama CIGA TV yang menayangkan dokumentasi kehidupan sehari-hari serta edukasi lingkungan. Melalui saluran radio dan televisi tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga informasi dan edukasi.

Yang menarik, meskipun memiliki akses terhadap teknologi modern, dalam proses bertanam padi masyarakat Ciptagelar tetap tidak menggunakan alat dan teknologi modern seperti rice cooker, traktor, dan penggiling padi. Proses menanam hingga memanen padi memiliki rangkaian adat tersendiri, mulai dari ngaseuk (menanam), mipit (memetik), nganyaran (makan pertama hasil panen), hingga seren taun (upacara tahunan).

 

Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Budaya-Seiring dengan meningkatnya kunjungan wisata budaya, Ciptagelar juga mengembangkan ekonomi kreatif berbasis kerajinan tradisional. Kerajinan khas Ciptagelar meliputi anyaman bambu (seperti boboko atau bakul nasi dan tudung atau penutup), kerajinan kayu dan logam (seperti lisung dan bedog atau bedog), hingga souvenir bernilai budaya seperti tas kaneron dan gelang simpay.

Setiap karya memiliki makna simbolik dan filosofis yang dalam. Golok melambangkan kekuatan, simpul Sulaiman sebagai simbol keseimbangan alam, dan lisung yang digunakan dalam upacara adat seren taun. Produk-produk kerajinan ini dibanderol dengan harga berkisar Rp100.000 hingga Rp300.000, tergantung jenis dan tingkat kerumitan. Geliat ekonomi kreatif di Ciptagelar semakin terasa seiring dengan meningkatnya kunjungan wisata budaya. “Semakin banyak tamu datang, semakin besar pula semangat warga untuk menjaga budaya. Kerajinan kami bukan sekadar ekonomi, tapi juga bentuk cinta pada warisan leluhur,” ujar Rumi, salah satu putra daerah Ciptagelar.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) menunjukkan bahwa pariwisata budaya di Kasepuhan Ciptagelar memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan daerah dan ekonomi masyarakat lokal, dengan tiga kategori kontribusi yang teridentifikasi: rendah (186 data), sedang (195 data), dan tinggi (216 data).

Part 5
Tatali Paranti Karuhun sebagai Landasan Filosofis  (Budaya sebagai Infrastruktur Sistemik)

Apa yang membuat sistem di Ciptagelar begitu tangguh? Jawabannya terletak pada ajaran tatali paranti karuhun yang menjadi landasan budaya mereka. Ajaran ini tidak hanya mengatur aspek religi, tetapi juga mencakup pandangan hidup, mata pencaharian, dan aktivitas sosial budaya secara holistik. Dengan kata lain, *tatali paranti karuhun* berfungsi sebagai infrastruktur sistemik—sebuah kerangka yang mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat secara terintegrasi.

Dalam kerangka ini, ketahanan pangan tidak dipisahkan dari pelestarian lingkungan, dan pelayanan sosial tidak dipisahkan dari nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. Semua berjalan dalam satu kesatuan sistem yang saling menguatkan.

Keseimbangan Ekologis dan Keberlanjutan- Sistem pertanian Ciptagelar didasarkan pada prinsip keseimbangan antara manusia dan alam. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar juga memegang teguh tradisi untuk senantiasa melestarikan hutan. Komunitas adat ini memiliki sistem hukum adat dalam hal memanfaatkan dan mengelola hutan, dengan pembagian tiga zona wilayah hutan (Hutan Titipan, Hutan Tutupan, dan Hutan Garapan) yang bertujuan agar kelestarian hutan tetap terjaga.

Penanaman padi hanya sekali setahun bukanlah bentuk keterbelakangan atau ketidaktahuan tentang teknologi pertanian modern. Sebaliknya, ini adalah pilihan sadar untuk menjaga kesuburan tanah jangka panjang, memberikan waktu bagi "ibu bumi untuk beristirahat setelah melahirkan kehidupan padi". Pendekatan ini selaras dengan prinsip pertanian berkelanjutan yang kini mulai diakui secara global.

Penelitian yang dilakukan di Kasepuhan Ciptagelar menunjukkan bahwa keberlanjutan pertanian padi di komunitas ini dapat dikatakan berkelanjutan, dengan 54,5% dari 44 indikator yang ditinjau bernilai baik, 41% bernilai terbatas, dan hanya 4,5% bernilai tidak dapat diterima.

Adaptasi Selektif terhadap Modernitas - Salah satu pembelajaran paling berharga dari Ciptagelar adalah kemampuannya untuk melakukan adaptasi selektif terhadap modernitas. Masyarakat Ciptagelar tidak menolak teknologi secara membabi buta, tetapi juga tidak menerima semuanya tanpa seleksi.

Mereka menggunakan energi mikrohidro dan panel surya untuk listrik, memanfaatkan wifi 5G untuk konektivitas, mengoperasikan radio dan televisi komunitas untuk edukasi, serta memiliki IT-Center untuk pengembangan teknologi informasi. Namun, mereka tetap menolak penggunaan rice cooker, traktor, dan penggiling padi dalam proses bertanam dan mengolah padi karena dianggap mengganggu tata cara adat yang telah diwariskan.

Pola adaptasi ini mencerminkan apa yang dapat disebut sebagai tradisi yang hidup —tradisi yang tidak membeku dalam bentuk yang kaku, tetapi mampu berdialog dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Kemandirian sebagai Jaminan Keterpenuhan Yang paling fundamental dari sistem budaya Ciptagelar adalah prinsip kemandirian (self-sufficiency). Dengan sistem pertaniannya, Ciptagelar tidak bergantung pada pasokan pangan dari luar. Dengan energi terbarukannya, Ciptagelar tidak bergantung pada jaringan listrik nasional. Dengan media komunikasinya sendiri, Ciptagelar tidak sepenuhnya bergantung pada arus informasi dari luar.

Prinsip kemandirian ini menjadi jaminan terkuat bagi keterpenuhan kebutuhan sosial dasar. Selama sistem produksi, distribusi, dan konsumsi dikendalikan secara mandiri oleh komunitas berdasarkan nilai-nilai budayanya, maka ketergantungan pada pihak luar—yang seringkali menjadi sumber kerentanan—dapat diminimalkan.

Part 6
Diskusi: Pembelajaran bagi Pengembangan Kebijakan

Sistem yang dijalankan oleh Kasepuhan Ciptagelar memiliki relevansi yang kuat dengan target-target Sustainable Development Goals (SDGs). Sebagaimana ditemukan dalam penelitian tentang masyarakat adat Baduy, sistem pertanian tradisional berbasis kearifan lokal berkontribusi pada pencapaian SDG 2 (Zero Hunger), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), dan SDG 15 (Life on Land). Ciptagelar menunjukkan bahwa target-target global tersebut dapat dicapai bukan hanya melalui pendekatan modern-industrial, tetapi juga melalui jalur kearifan lokal yang telah teruji selama berabad-abad.

Implikasi bagi Kebijakan Ketahanan Pangan Nasional - Kemandirian pangan Ciptagelar—dengan cadangan pangan hingga puluhan tahun dan produktivitas 10 ton per hektar tanpa pupuk kimia—memberikan pelajaran penting bagi kebijakan ketahanan pangan nasional. Di tengah maraknya wacana food estate  yang cenderung mengabaikan kearifan lokal dan ekologi setempat, model Ciptagelar menunjukkan bahwa kemandirian pangan justru dapat dicapai melalui pendekatan yang ramah lingkungan, berbasis budaya lokal, dan dikelola secara komunal.

pangan lokal kita adalah warisan budaya yang merupakan cermin identitas, tradisi, kearifan lokal, dan jati diri bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya budaya dalam ketahanan pangan mulai mendapat tempat dalam wacana kebijakan nasional.

Tantangan dan Ancaman - Meskipun sistem Ciptagelar terbukti tangguh, bukan berarti tidak menghadapi tantangan. Tekanan dari luar—mulai dari masuknya investasi yang mengancam wilayah adat, pengaruh gaya hidup konsumtif melalui akses internet yang semakin terbuka, hingga perubahan iklim yang mempengaruhi pola tanam—merupakan ancaman nyata yang perlu diantisipasi.

Selain itu, tantangan regenerasi juga tidak bisa diabaikan. Seiring dengan semakin terbukanya akses pendidikan dan informasi, generasi muda Ciptagelar menghadapi godaan untuk meninggalkan kampung halaman dan mencari kehidupan di kota—sebuah fenomena yang umum terjadi di banyak masyarakat adat di Indonesia.

Part 7

Berdasarkan analisis terhadap sistem kehidupan di Desa Adat Ciptagelar, penulis menyimpulkan bahwa budaya memainkan peran sentral dan sistemik dalam membangun ketahanan pangan dan menjamin keterpenuhan pelayanan sosial dasar.

Dalam aspek ketahanan pangan, budaya Ciptagelar yang berlandaskan ajaran tatali paranti karuhun telah menghasilkan sistem pertanian tradisional yang berkelanjutan, dengan praktik menanam padi setahun sekali tanpa pupuk kimia, sistem penyimpanan dalam leuit, dan prinsip tidak menjual beras. Hasilnya adalah cadangan pangan yang mampu bertahan hingga puluhan tahun—sebuah pencapaian yang sulit ditandingi oleh banyak komunitas lain di Indonesia.

Dalam aspek pelayanan sosial dasar, Ciptagelar menunjukkan model hibrida yang mengintegrasikan sistem kesehatan tradisional (dukun) dengan layanan kesehatan modern (posyandu), menyediakan akses pendidikan dari SD hingga SMA, serta mengembangkan infrastruktur teknologi informasi yang mandiri (energi mikrohidro, wifi 5G, radio dan televisi komunitas). Semua ini berjalan tanpa meninggalkan nilai-nilai adat yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Yang paling penting, penulis menemukan bahwa budaya di Ciptagelar tidak berfungsi sebagai sekadar pelengkap simbolis atau ornamentasi dalam pembangunan, melainkan sebagai infrastruktur sistemik yang secara aktif mengatur dan mengoordinasikan seluruh aspek kehidupan—dari produksi pangan, distribusi sumber daya, hingga akses terhadap layanan sosial. Prinsip kemandirian yang dihasilkan dari sistem budaya ini menjadi jaminan terkuat bagi keterpenuhan kebutuhan dasar warga.

Pembelajaran dari Ciptagelar menegaskan bahwa ketahanan pangan dan pelayanan sosial dasar tidak harus selalu dicapai melalui jalan modernisasi dan industrialisasi yang mengabaikan konteks budaya lokal. Kearifan lokal, ketika dihidupkan secara sungguh-sungguh dan dikelola dengan sistem kelembagaan yang kuat, dapat menjadi fondasi bagi kesejahteraan yang berkelanjutan. Di tengah krisis pangan global dan ketimpangan akses terhadap layanan dasar, model Ciptagelar menawarkan sebuah alternatif yang patut mendapatkan perhatian serius dari para pembuat kebijakan, akademisi, praktisi pembangunan, Tenaga Pendamping Profesional dan para pegiat desa .



Daftar Pustaka

(2021). Prabowo, Y. B., & Sudrajat, S.  Kearifan Lokal Kasepuhan Ciptagelar: Pertanian sebagai Simbol Budaya & Keselarasan Alam. Jurnal Adat Dan Budaya Indonesia, 3(1), 6–16.

(2024). Leuit: Simbol Ketahanan Pangan Kasepuhan Ciptagelar. Digitani IPB.

(2025). Kisah Kampung Adat Ciptagelar Mengolah Padi Hingga Punya Cadangan Pangan Puluhan Tahun. Tempo.co.

(2024). Belajar Kemandirian Pangan dari Desa. Universitas Katolik Parahyangan.

(2020). Kampung Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi Tak Lagi Tertinggal, Tersedia Jaringan Wifi 5G. Wartakotalive.com.

(2025). Kearifan Lokal Kampung Adat Ciptagelar, Dipertahankan sebagai Warisan Budaya Luhur. Wartain.com.

Gustian, D., et al. (2025). Mapping the Contribution of Kasepuhan Ciptagelar Tourism to Regional Income and Community Economy. Scientific Journal of Informatics, 13(1).

Widiati, S., Sutisna, T., Chandra, M. A., & Saputri, K. A. (2026). Implementasi Pembangunan Pertanian Berkelanjutan pada Masyarakat Adat Baduy dalam Menunjang Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Agribisnis Terpadu.

(2022). Kampung Adat Ciptagelar Lestari Lewati 10 Generasi. Pikiran Rakyat.

(2025). Desa Ciptagelar Sukabumi, Tradisi dan Masa Kini. RRI.co.id.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CIPTAGELAR (TATALI PARANTI KARUHUN) - Budaya sebagai Benteng Pelayanan Sosial Dasar dan Ketahanan Pangan

  “ seharusnya budaya tidak berfungsi hanya sekedar pelengkap simbolis atau ornamentasi dalam pembangunan saja, melainkan sebagai infrastruk...