“ seharusnya budaya tidak berfungsi hanya sekedar pelengkap simbolis atau ornamentasi dalam pembangunan saja, melainkan sebagai infrastruktur sistemik yang secara aktif mengatur dan mengoordinasikan seluruh aspek kehidupan—dari produksi pangan, distribusi sumber daya, hingga akses terhadap layanan sosial. Prinsip kemandirian yang dihasilkan dari sistem budaya ini menjadi jaminan terkuat bagi keterpenuhan kebutuhan dasar warga”. Kang Ovan TPP PUSAT Bidang Pengembangan Sosial Budaya
Ketahanan pangan dan jaminan
keterpenuhan pelayanan sosial dasar merupakan dua pilar fundamental dalam
mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Di tengah dominasi pendekatan teknokratis
dan kapitalis dalam pembangunan, masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar di
Sukabumi, Jawa Barat, menawarkan model berbasis kearifan lokal dan sistem
budaya. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis peran budaya dalam membangun
ketahanan pangan dan menjamin keterpenuhan pelayanan sosial dasar di Desa Adat
Ciptagelar. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa sistem pertanian tradisional yang berlandaskan ajaran tatali paranti
karuhun, dengan praktik menanam padi setahun sekali tanpa pupuk kimia dan
sistem penyimpanan dalam leuit (lumbung), telah menciptakan cadangan
pangan yang mampu bertahan hingga puluhan tahun. Dalam aspek pelayanan sosial
dasar, Ciptagelar menunjukkan integrasi unik antara sistem kesehatan
tradisional dengan layanan kesehatan modern (posyandu), serta pemenuhan akses pendidikan
formal dari SD hingga SMA yang berjalan beriringan dengan teknologi informasi
modern seperti wifi 5G, radio, dan televisi komunitas. Saya mencoba menyimpulkan
bahwa budaya berfungsi tidak hanya sebagai pelengkap simbolis, tetapi sebagai
infrastruktur sistemik yang mengatur produksi, distribusi, dan konsumsi pangan
sekaligus menjamin akses terhadap layanan sosial dasar. Model Ciptagelar
menawarkan pembelajaran berharga bagi pengembangan kebijakan ketahanan pangan
dan pelayanan sosial yang berperspektif budaya.
Part 1
Ketahanan pangan dan jaminan
keterpenuhan pelayanan sosial dasar (pendidikan, kesehatan, dan layanan dasar
lainnya) merupakan hak dasar setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi.
Namun, di banyak wilayah, khususnya di daerah terpencil dan pedalaman,
pemenuhan kedua aspek tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari
keterbatasan akses infrastruktur, ketergantungan pada pasokan dari luar, hingga
rapuhnya sistem produksi pangan lokal akibat perubahan iklim dan tekanan
modernisasi.
Dalam konteks inilah, masyarakat
adat Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi, Jawa Barat, menarik untuk dikaji.
Terletak di kaki Gunung Halimun-Salak pada ketinggian 800-1.200 meter di atas
permukaan laut, komunitas adat ini telah bertahan selama lebih dari 640
tahun—sejak berdiri pada tahun 1368—dengan tetap memegang teguh tradisi dan
budaya leluhur. Yang membuat Ciptagelar istimewa adalah kemampuannya untuk
tidak sekadar bertahan, tetapi justru mencapai kemandirian pangan yang
mengesankan serta menyediakan akses terhadap pelayanan sosial dasar yang
relatif lengkap bagi warganya, tanpa harus meninggalkan nilai-nilai adat yang
menjadi fondasi kehidupannya.
Bagaimana budaya berperan
dalam membangun ketahanan pangan dan menjamin keterpenuhan pelayanan sosial
dasar di Desa Adat Ciptagelar?
Mari kita lihat satu persatu secara lebih spesifik, penulis mencoba menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, sementara data-data dikumpulkan melalui studi literatur dan analisis dokumen dari berbagai sumber, termasuk artikel jurnal ilmiah, laporan berita dan publikasi resmi terkait kasepuhan Ciptagelar untuk kemudian dianalisis dengan teknik analisis tematik tematik untuk mengidentifikasi pola-pola kultural yang relevan dengan ketahanan pangan dan pelayanan sosial dasar
Tulisan ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi sistem budaya yang mendasari praktik ketahanan pangan di Ciptagelar; (2) mendeskripsikan model pemenuhan pelayanan sosial dasar di komunitas tersebut; dan (3) menganalisis bagaimana kedua sistem tersebut berinteraksi dan saling memperkuat dalam kerangka budaya lokal.
Part 2
Letak Geografis dan Sejarah:
Kasepuhan Ciptagelar secara administratif terletak di Kampung Sukamulya, Desa
Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Komunitas ini mendiami wilayah yang berada di dalam kawasan hutan Taman
Nasional Gunung Halimun Salak, dengan ketinggian antara 800 hingga 1.200 meter
di atas permukaan laut.
Berdasarkan catatan sejarah yang
diwariskan secara turun-temurun, Kampung Adat Ciptagelar mulai berdiri pada
tahun 1368, yang didirikan oleh perwakilan dari Kerajaan Sunda di bawah
pemerintahan Prabu Siliwangi. Sejak saat itu, kepemimpinan kampung adat ini
telah berlangsung selama sepuluh generasi secara turun-temurun, dengan pemimpin
adat saat ini adalah Abah Ugi Sugriana Rakasiwi (generasi kesepuluh).
Part 3
Ketahanan Pangan Berbasis
Budaya di Ciptagelar Masyarakat Ciptagelar menjalankan dua sistem pertanian
secara simultan. Pertama, pertanian di lahan kering yang berlokasi di
perbukitan (huma) atau berladang di lereng. Kedua, pertanian di hamparan lahan
basah atau bersawah (sawah). Kedua sistem ini dijalankan sebagai suatu kesatuan
yang terintegrasi, dilakukan baik oleh keluarga secara mandiri maupun secara
komunal.
Yang membedakan sistem pertanian
Ciptagelar dari praktik pertanian modern adalah sifatnya yang alami dan
kepatuhan terhadap aturan-aturan adat yang ketat. Penanaman padi dilakukan
hanya satu kali dalam setahun sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan untuk
menjaga kesuburan lahan. Setiap tahapan bertani, mulai dari menanam hingga
panen, disertai dengan upacara adat sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan
kepada alam. Masyarakat Ciptagelar tidak menggunakan pupuk kimia maupun
pestisida dalam praktik pertanian mereka.
Yang menarik, penentuan waktu
tanam tidak berpatokan pada kalender modern, melainkan pada pengamatan terhadap
pergerakan bintang. Masyarakat Ciptagelar menggunakan dua bintang sebagai
penanda: bintang Kerti atau Kartika sebagai penanda dimulainya masa persiapan,
dan bintang Kidang atau Waluku (Orion) sebagai penanda waktu mulai menanam
padi. Setelah bintang Kidang bergeser posisinya ke arah jam dua, penanaman
harus dihentikan dan masa pembesaran padi dimulai hingga masa panen sebelum
bintang Kidang menghilang.
Leuit : Lumbung Padi sebagai
Simbol Ketahanan Pangan
Leuit atau lumbung padi
menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kasepuhan
Ciptagelar. Leuit dirancang secara tradisional untuk tahan terhadap cuaca dan
gangguan hama, serta dilengkapi sistem sirkulasi udara yang baik untuk menjaga
kualitas gabah yang disimpan. Jumlah leuit di Ciptagelar tak kurang dari 11.000
buah, yang tersebar di seluruh permukiman warga.
Masing-masing keluarga di
Kasepuhan Ciptagelar biasanya memiliki satu lumbung padi yang dapat menampung
1.000 hingga 2.000 ikat padi—cukup untuk mencukupi kebutuhan konsumsi satu
keluarga selama setahun. Varietas padi lokal yang ditanam terbukti lebih tahan
lama ketika disimpan dalam leuit dibandingkan dengan varietas unggulan lainnya,
sehingga menjamin ketersediaan pangan hingga musim panen berikutnya.
Masyarakat Ciptagelar memiliki
keyakinan yang kuat untuk tidak menjual beras atau padi. Mereka memandang padi
sebagai sesuatu yang sakral, dengan filosofi yang menghubungkan kehidupan
manusia dengan padi sebagai pangan yang saling memberi kehidupan.
Cadangan Pangan yang
Mengagumkan - Hasil dari sistem pertanian dan penyimpanan tradisional ini
sungguh luar biasa. Berdasarkan perhitungan ketua adat Abah Ugi Sugriana
Rakasiwi pada tahun 2017, persediaan pangan utama warga Ciptagelar diperkirakan
dapat bertahan hingga 95 tahun ke depan, dengan estimasi hasil panen setiap
tahun yang mengalami surplus mencapai 40.000 ton. Dalam skenario terburuk—andai
bumi tidak bisa ditanami selama tujuh hingga sepuluh tahun—cadangan pangan yang
ada dinilai masih aman.
Produktivitas pertanian
Ciptagelar juga mengesankan. Dengan sistem pertanian alami tanpa pupuk dan
pestisida kimia, sawah di Ciptagelar mampu menghasilkan 10 ton per
hektar—produktivitas yang jauh di atas rata-rata nasional Indonesia. Fenomena
yang lebih mencengangkan terjadi pada tahun 2015, ketika El Nino menyebabkan
kemarau panjang dan menggagalkan panen padi di berbagai tempat, namun
Ciptagelar justru mencatat panen fenomenal yang mencapai 2.144.000 ikat dengan
luasan dan bibit padi yang sama.
Dapur Bersama dan Konsumsi
Komunal - Selain sistem produksi dan penyimpanan yang tangguh, Ciptagelar
juga memiliki sistem konsumsi yang unik berupa dapur bersama yang buka
24 jam. Di dapur bersama ini, warga desa memasak dan makan bersama sebagai
simbol kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan. Praktik ini tidak hanya
berfungsi sebagai mekanisme distribusi pangan yang merata, tetapi juga
memperkuat solidaritas sosial dan kohesi komunitas—elemen budaya yang tak
terpisahkan dari jaminan keterpenuhan kebutuhan dasar.
Pelayanan Sosial Dasar di Ciptagelar: Antara Tradisi dan Modernitas
Sistem Kesehatan: Integrasi
Dukun dan Posyandu - Dalam aspek pelayanan kesehatan, Ciptagelar
menunjukkan model hibrida yang unik antara sistem kesehatan tradisional dan
modern. Berdasarkan survei tim The 6th Connection 2020 IPB University, di
Kasepuhan Ciptagelar sudah terdapat kegiatan posyandu (Pos Pelayanan Terpadu)
sebagai bagian dari layanan kesehatan modern.
Namun yang menarik adalah
keberadaan dukun yang berperan sebagai dokter dan bidan dalam sistem kesehatan
masyarakat. Menurut pernyataan Kang Yoyo (juru bicara Desa Adat Ciptagelar),
semua orang adalah dukun dan dukun mampu melihat penyakit karena keturunan
ataupun "kiriman". Dukun tidak hanya berfungsi sebagai penyembuh
secara spiritual, tetapi juga memiliki peran dalam diagnosis penyakit dan
penanganan kesehatan ibu dan anak.
Fakta menarik lainnya adalah
bahwa ketua adat Kasepuhan Ciptagelar sendiri, Abah Ugi, memiliki ketertarikan
terhadap teknologi komunikasi sejak menempuh pendidikan di SMP dan
SMK—menunjukkan bahwa kepemimpinan adat di Ciptagelar tidak alergi terhadap modernitas,
tetapi justru menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi.
Pendidikan: Sekolah Formal dan
Pusat Teknologi - Dalam hal pendidikan, Ciptagelar telah menyediakan
fasilitas yang relatif lengkap. Terdapat Sekolah Dasar Negeri Ciptagelar,
Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas Terpadu untuk mempersiapkan
pendidikan anak-anak dan generasi muda. Keberadaan jenjang pendidikan hingga
SMA di wilayah pedalaman seperti Ciptagelar merupakan capaian yang signifikan
dalam menjamin akses pendidikan dasar bagi seluruh warga.
Lebih dari itu, Ciptagelar juga
memiliki IT-Center dan mengadakan
Rural ICT Camp yang terbuka tidak hanya untuk warga lokal tetapi juga
untuk orang dari luar kampung yang ingin belajar dan mengembangkan teknologi.
Fasilitas ini menunjukkan bahwa Ciptagelar tidak menutup diri terhadap
perkembangan teknologi informasi, tetapi justru menggunakannya sebagai alat
pemberdayaan.
Teknologi Informasi dan
Komunikasi - Salah satu aspek paling menarik dari kehidupan di Ciptagelar
adalah keberadaan infrastruktur teknologi informasi yang cukup maju. Kampung
ini telah menggunakan listrik dengan tenaga mikrohidro (energi terbarukan)
sehingga mandiri secara energi tanpa bergantung pada PLN. Bahkan, telah
tersedia jaringan wifi 5G, yang menjadikan Ciptagelar terhubung dengan dunia
luar secara digital.
Ciptagelar juga memiliki stasiun
radio komunitas bernama Radio Suara Ciptagelar dan stasiun televisi
lokal bernama CIGA TV yang menayangkan dokumentasi kehidupan sehari-hari
serta edukasi lingkungan. Melalui saluran radio dan televisi tersebut,
masyarakat tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga informasi dan edukasi.
Yang menarik, meskipun memiliki
akses terhadap teknologi modern, dalam proses bertanam padi masyarakat
Ciptagelar tetap tidak menggunakan alat dan teknologi modern seperti rice
cooker, traktor, dan penggiling padi. Proses menanam hingga memanen padi memiliki
rangkaian adat tersendiri, mulai dari ngaseuk (menanam), mipit
(memetik), nganyaran (makan pertama hasil panen), hingga seren
taun (upacara tahunan).
Ekonomi Kreatif dan Pariwisata
Budaya-Seiring dengan meningkatnya kunjungan wisata budaya, Ciptagelar juga
mengembangkan ekonomi kreatif berbasis kerajinan tradisional. Kerajinan khas
Ciptagelar meliputi anyaman bambu (seperti boboko atau bakul nasi dan tudung
atau penutup), kerajinan kayu dan logam (seperti lisung dan bedog
atau bedog), hingga souvenir bernilai budaya seperti tas kaneron dan
gelang simpay.
Setiap karya memiliki makna
simbolik dan filosofis yang dalam. Golok melambangkan kekuatan, simpul Sulaiman
sebagai simbol keseimbangan alam, dan lisung yang digunakan dalam upacara adat seren
taun. Produk-produk kerajinan ini dibanderol dengan harga berkisar
Rp100.000 hingga Rp300.000, tergantung jenis dan tingkat kerumitan. Geliat
ekonomi kreatif di Ciptagelar semakin terasa seiring dengan meningkatnya
kunjungan wisata budaya. “Semakin banyak tamu datang, semakin besar pula
semangat warga untuk menjaga budaya. Kerajinan kami bukan sekadar ekonomi, tapi
juga bentuk cinta pada warisan leluhur,” ujar Rumi, salah satu putra daerah
Ciptagelar.
Penelitian yang dilakukan oleh
tim dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) menunjukkan bahwa pariwisata
budaya di Kasepuhan Ciptagelar memberikan kontribusi positif terhadap
pendapatan daerah dan ekonomi masyarakat lokal, dengan tiga kategori kontribusi
yang teridentifikasi: rendah (186 data), sedang (195 data), dan tinggi (216
data).
Tatali Paranti Karuhun sebagai Landasan Filosofis (Budaya sebagai Infrastruktur Sistemik)
Apa yang membuat sistem di
Ciptagelar begitu tangguh? Jawabannya terletak pada ajaran tatali paranti
karuhun yang menjadi landasan budaya mereka. Ajaran ini tidak hanya
mengatur aspek religi, tetapi juga mencakup pandangan hidup, mata pencaharian,
dan aktivitas sosial budaya secara holistik. Dengan kata lain, *tatali paranti
karuhun* berfungsi sebagai infrastruktur sistemik—sebuah kerangka yang mengatur
seluruh aspek kehidupan masyarakat secara terintegrasi.
Dalam kerangka ini, ketahanan
pangan tidak dipisahkan dari pelestarian lingkungan, dan pelayanan sosial tidak
dipisahkan dari nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. Semua berjalan dalam
satu kesatuan sistem yang saling menguatkan.
Keseimbangan Ekologis dan
Keberlanjutan- Sistem pertanian Ciptagelar didasarkan pada prinsip
keseimbangan antara manusia dan alam. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar juga
memegang teguh tradisi untuk senantiasa melestarikan hutan. Komunitas adat ini
memiliki sistem hukum adat dalam hal memanfaatkan dan mengelola hutan, dengan
pembagian tiga zona wilayah hutan (Hutan Titipan, Hutan Tutupan, dan Hutan
Garapan) yang bertujuan agar kelestarian hutan tetap terjaga.
Penanaman padi hanya sekali
setahun bukanlah bentuk keterbelakangan atau ketidaktahuan tentang teknologi
pertanian modern. Sebaliknya, ini adalah pilihan sadar untuk menjaga kesuburan
tanah jangka panjang, memberikan waktu bagi "ibu bumi untuk beristirahat
setelah melahirkan kehidupan padi". Pendekatan ini selaras dengan prinsip
pertanian berkelanjutan yang kini mulai diakui secara global.
Penelitian yang dilakukan di
Kasepuhan Ciptagelar menunjukkan bahwa keberlanjutan pertanian padi di
komunitas ini dapat dikatakan berkelanjutan, dengan 54,5% dari 44 indikator
yang ditinjau bernilai baik, 41% bernilai terbatas, dan hanya 4,5% bernilai tidak
dapat diterima.
Adaptasi Selektif terhadap
Modernitas - Salah satu pembelajaran paling berharga dari Ciptagelar adalah
kemampuannya untuk melakukan adaptasi selektif terhadap modernitas.
Masyarakat Ciptagelar tidak menolak teknologi secara membabi buta, tetapi juga
tidak menerima semuanya tanpa seleksi.
Mereka menggunakan energi
mikrohidro dan panel surya untuk listrik, memanfaatkan wifi 5G untuk
konektivitas, mengoperasikan radio dan televisi komunitas untuk edukasi, serta
memiliki IT-Center untuk pengembangan teknologi informasi. Namun, mereka tetap
menolak penggunaan rice cooker, traktor, dan penggiling padi dalam proses
bertanam dan mengolah padi karena dianggap mengganggu tata cara adat yang telah
diwariskan.
Pola adaptasi ini mencerminkan
apa yang dapat disebut sebagai tradisi yang hidup —tradisi yang tidak
membeku dalam bentuk yang kaku, tetapi mampu berdialog dengan perubahan zaman
tanpa kehilangan jati dirinya.
Kemandirian sebagai Jaminan
Keterpenuhan Yang paling fundamental dari sistem budaya Ciptagelar adalah
prinsip kemandirian (self-sufficiency). Dengan sistem pertaniannya, Ciptagelar
tidak bergantung pada pasokan pangan dari luar. Dengan energi terbarukannya,
Ciptagelar tidak bergantung pada jaringan listrik nasional. Dengan media
komunikasinya sendiri, Ciptagelar tidak sepenuhnya bergantung pada arus
informasi dari luar.
Prinsip kemandirian ini
menjadi jaminan terkuat bagi keterpenuhan kebutuhan sosial dasar. Selama sistem
produksi, distribusi, dan konsumsi dikendalikan secara mandiri oleh komunitas
berdasarkan nilai-nilai budayanya, maka ketergantungan pada pihak luar—yang
seringkali menjadi sumber kerentanan—dapat diminimalkan.
Diskusi: Pembelajaran bagi Pengembangan Kebijakan
Sistem yang dijalankan oleh
Kasepuhan Ciptagelar memiliki relevansi yang kuat dengan target-target
Sustainable Development Goals (SDGs). Sebagaimana ditemukan dalam penelitian
tentang masyarakat adat Baduy, sistem pertanian tradisional berbasis kearifan lokal
berkontribusi pada pencapaian SDG 2 (Zero Hunger), SDG 12 (Responsible
Consumption and Production), dan SDG 15 (Life on Land). Ciptagelar menunjukkan
bahwa target-target global tersebut dapat dicapai bukan hanya melalui
pendekatan modern-industrial, tetapi juga melalui jalur kearifan lokal yang
telah teruji selama berabad-abad.
Implikasi bagi Kebijakan
Ketahanan Pangan Nasional - Kemandirian pangan Ciptagelar—dengan cadangan
pangan hingga puluhan tahun dan produktivitas 10 ton per hektar tanpa pupuk
kimia—memberikan pelajaran penting bagi kebijakan ketahanan pangan nasional. Di
tengah maraknya wacana food estate yang cenderung mengabaikan kearifan lokal dan
ekologi setempat, model Ciptagelar menunjukkan bahwa kemandirian pangan justru
dapat dicapai melalui pendekatan yang ramah lingkungan, berbasis budaya
lokal, dan dikelola secara komunal.
pangan lokal kita adalah warisan
budaya yang merupakan cermin identitas, tradisi, kearifan lokal, dan jati diri
bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya budaya dalam
ketahanan pangan mulai mendapat tempat dalam wacana kebijakan nasional.
Tantangan dan Ancaman - Meskipun
sistem Ciptagelar terbukti tangguh, bukan berarti tidak menghadapi tantangan.
Tekanan dari luar—mulai dari masuknya investasi yang mengancam wilayah adat,
pengaruh gaya hidup konsumtif melalui akses internet yang semakin terbuka,
hingga perubahan iklim yang mempengaruhi pola tanam—merupakan ancaman nyata
yang perlu diantisipasi.
Selain itu, tantangan regenerasi
juga tidak bisa diabaikan. Seiring dengan semakin terbukanya akses pendidikan
dan informasi, generasi muda Ciptagelar menghadapi godaan untuk meninggalkan
kampung halaman dan mencari kehidupan di kota—sebuah fenomena yang umum terjadi
di banyak masyarakat adat di Indonesia.
Part 7
Berdasarkan analisis terhadap
sistem kehidupan di Desa Adat Ciptagelar, penulis menyimpulkan bahwa budaya
memainkan peran sentral dan sistemik dalam membangun ketahanan pangan dan
menjamin keterpenuhan pelayanan sosial dasar.
Dalam aspek ketahanan pangan,
budaya Ciptagelar yang berlandaskan ajaran tatali paranti karuhun telah
menghasilkan sistem pertanian tradisional yang berkelanjutan, dengan praktik
menanam padi setahun sekali tanpa pupuk kimia, sistem penyimpanan dalam leuit,
dan prinsip tidak menjual beras. Hasilnya adalah cadangan pangan yang mampu
bertahan hingga puluhan tahun—sebuah pencapaian yang sulit ditandingi oleh
banyak komunitas lain di Indonesia.
Dalam aspek pelayanan sosial
dasar, Ciptagelar menunjukkan model hibrida yang mengintegrasikan sistem
kesehatan tradisional (dukun) dengan layanan kesehatan modern (posyandu),
menyediakan akses pendidikan dari SD hingga SMA, serta mengembangkan infrastruktur
teknologi informasi yang mandiri (energi mikrohidro, wifi 5G, radio dan
televisi komunitas). Semua ini berjalan tanpa meninggalkan nilai-nilai adat
yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
Yang paling penting, penulis
menemukan bahwa budaya di Ciptagelar tidak berfungsi sebagai sekadar pelengkap
simbolis atau ornamentasi dalam pembangunan, melainkan sebagai infrastruktur
sistemik yang secara aktif mengatur dan mengoordinasikan seluruh aspek
kehidupan—dari produksi pangan, distribusi sumber daya, hingga akses terhadap
layanan sosial. Prinsip kemandirian yang dihasilkan dari sistem budaya ini
menjadi jaminan terkuat bagi keterpenuhan kebutuhan dasar warga.
Pembelajaran dari Ciptagelar
menegaskan bahwa ketahanan pangan dan pelayanan sosial dasar tidak harus selalu
dicapai melalui jalan modernisasi dan industrialisasi yang mengabaikan konteks
budaya lokal. Kearifan lokal, ketika dihidupkan secara sungguh-sungguh dan
dikelola dengan sistem kelembagaan yang kuat, dapat menjadi fondasi bagi
kesejahteraan yang berkelanjutan. Di tengah krisis pangan global dan
ketimpangan akses terhadap layanan dasar, model Ciptagelar menawarkan sebuah
alternatif yang patut mendapatkan perhatian serius dari para pembuat kebijakan,
akademisi, praktisi pembangunan, Tenaga Pendamping Profesional dan para pegiat desa .
Daftar Pustaka
(2021). Prabowo, Y. B., & Sudrajat,
S. Kearifan Lokal Kasepuhan Ciptagelar: Pertanian sebagai Simbol Budaya
& Keselarasan Alam. Jurnal Adat Dan Budaya Indonesia, 3(1), 6–16.
(2024). Leuit: Simbol Ketahanan
Pangan Kasepuhan Ciptagelar. Digitani IPB.
(2025). Kisah Kampung Adat
Ciptagelar Mengolah Padi Hingga Punya Cadangan Pangan Puluhan Tahun. Tempo.co.
(2024). Belajar Kemandirian
Pangan dari Desa. Universitas Katolik Parahyangan.
(2020). Kampung Kasepuhan
Ciptagelar, Sukabumi Tak Lagi Tertinggal, Tersedia Jaringan Wifi 5G. Wartakotalive.com.
(2025). Kearifan Lokal Kampung
Adat Ciptagelar, Dipertahankan sebagai Warisan Budaya Luhur. Wartain.com.
Gustian, D., et al. (2025).
Mapping the Contribution of Kasepuhan Ciptagelar Tourism to Regional Income and
Community Economy. Scientific Journal of Informatics, 13(1).
Widiati, S., Sutisna, T.,
Chandra, M. A., & Saputri, K. A. (2026). Implementasi Pembangunan Pertanian
Berkelanjutan pada Masyarakat Adat Baduy dalam Menunjang Ketahanan Pangan
Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Agribisnis Terpadu.
(2022). Kampung Adat Ciptagelar
Lestari Lewati 10 Generasi. Pikiran Rakyat.
(2025). Desa Ciptagelar Sukabumi,
Tradisi dan Masa Kini. RRI.co.id.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar